Sabtu, 01 Desember 2012
Rabu, 19 September 2012
AYAH.... BUNDA....
Ayah... Bunda...
Betapa indahnya senyumanmu ketika engkau bahagia.
Ayah... Bunda...
Ku ingin melihat senyuman itu ketika kalian berada di Tanah
Suci-Nya.
Doa yang selalu kupinta.
Perbuatan yang selalu aku lakukan, hanyalah untuk kalian.
Ku ingin menjadi seperti kalian 16 tahun yang lalu.
Merawatmu dengan sabar dihari tuamu nanti sama sepertimu
dulu yang sabar merawatku kapanpun ketika ku membutuhkanmu.
Bekerja keras untuk segala keinginanmu.
Menahan amarah ketika kalian bertingkah laku sepertiku dulu.
Aku tau dihari tuamu nanti segala semangat yang kau miliki
akan berkurang satu persatu karena terhalang oleh fisikmu.
Ayah... Bunda...
Sertakanlah nama anakmu ini dalam setiap doamu agar dapat memenuhi
keinginan terbesarmu.
Ketika aku menangis, kau mencoba menghapus air mata itu
bunda..
Ketika aku menangis, kau mencoba memberikan pemahaman
terhadap realita kehidupan ini ayah..
Aku ingin seperti kalian dimasa depan pula, selalu ada dan
mendampingimu setiap saat.
Menghapus segala keluh kesahmu terhadap keadaan tuamu nanti.
Tersenyumlah Ayah.. Bunda..
Aku merindukan senyuman itu saat ini.
Senyummu adalah semangatku.
Dan senyummu pula yang selalu memberikan ketegaran kepadaku
untuk menghadapi realita kehidupan di dunia ini. :*
*Pray me to be the best child for your old’s life.
Love you MOM :*
Love you DAD :*
CANDI JABUNG (History Of Probolinggo City)
Candi Jabung adalah salah satu candi hindu peninggalan kerajaan Majapahit. Candi hindu ini terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Struktur bangunan candi yang hanya dari bata merah ini mampu bertahan
ratusan tahun. Menurut keagamaan, Agama Budha dalam kitab Nagarakertagama Candi Jabung di sebutkan dengan nama Bajrajinaparamitapura. Dalam kitab Nagarakertagama candi Jabung dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada lawatannya keliling Jawa Timur pada tahun 1359 Masehi. Pada kitab Pararaton disebut Sajabung yaitu tempat pemakaman Bhre Gundal salah seorang keluarga raja.
Candi terdiri dari empat bagian, dari bagian terbawah; bagian batur, kaki, tubuh, dan atap candi.
Batur
Batur candi berukuran panjang 13,11 meter, lebar 9,58 meter di atas batur terdapat selasar keliling yang sempit dan terdapat beberapa panil relief yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.
- Seorang pertapa memakai sorban berhadapan dengan muridnya.
- Dua orang lelaki yang sedang berada di dekat sumur, salah seorang memegangi tali timba.
- Diantara panil-panil terdapat panil berbentuk bulat menonjol semacam medalion dan relifnya di dalam medalion sudah aus.
- Singa yang saling berhadapan.
Kaki candi
Pada dasarnya bentuknya segi empat, bagian barat atau depan terdapat
bagian yang menjorok keluar atau bagian konstruksi yang mendukung tangga
naik. Candi Jabung terdapat sebuah bilik segi empat dengan ukuran 1,30 x
1,30 meter tanpa terdapat pintu masuk untuk memasukinya. Bagian kaki
candi dibagi atas dua bagian.
- Kaki candi tingkat pertama Dimulai dari lis di atas batur yang berbentuk agief (3,51 genta) dengan hiasan daun padina, kemudian lis datar dengan ketinggian kurang lebih 60 cm, di atas lis-lis terdapat bidang panil yang terdiri dari 30 lapis bata merah atau setinggi 12 meter pada bidang panil dipahatkan motif medalion. Bidang tegak dari ornamen daun-daunan yang kesemuanya sudah tidak begitu jelas karena aus. Pada bagian tegak umumnya di pahatkan lukisan manusia, binatang dan pohon-pohonan.
- Kaki candi tingkat kedua Bentuknya hampir sama dengan bagian kaki candi tingkat pertama, dimulai hiasan daun padma dan lis datar. Dibeberapa bagian terdapat bidang vertical selebar 50 cm berisi ukiran kala dan ornamen daun-daunan.
Tubuh candi
Bagian tubuh candi terdapat relief manusia, rumah dan pohon-pohonan,
pada sudut tenggara terdapat relief yang menggambarkan wanita naik di
punggung seekor ikan, relief ini dalam agama Hindu mengisahkan cerita
pelepasan jiwa Sri Tanjung. Kisah ini melambangkan kesetian seorang perempuan pada suaminya Relief Sri Tanjung juga terdapat di Candi Penataran di Blitar, Candi Surawana di Kediri dan Gapura Bajangratu di Trowulan,
Mojokerto. Pada bagian tengah tubuh candi melalui pintu tersebut
terdapat bilik candi yang berukuran 2,60 x 2,58 meter dan tinggi 5,52
meter dan pada bagian atasnya terdapat batu penutup cungkup yang
berukir. Setelah bagian dasar tubuh candi yang berbentuk persegi,
diteruskan dengan tubuh candi berbentuk tabung (silinder) dihias relief
dan ukiran yang indah dan halus pahatannya. Di atas gawang pintu dan
relung di semua penjuru terpahat bentuk kala,
di bagian bawah ambang pintu bentuknya segi empat menonjol keluar yang
tengahnya dipahatkan kepala naga. Pada atas bingkai pintu ada balok batu
kali terdapat pahatan roset ditengahnya bertuliskan angka tahun saka
1276 saka atau 1354 masehi merupakan bukti masa pembangunan candi
Jabung.
Atap candi
Sebagian besar bagian atap candi sudah hilang. Dari sisa-sisanya
kemungkinan besar puncaknya berbentuk stupa dan atapnya berhias motif
sulur-suluran.
Rabu, 01 Agustus 2012
Hati Seorang Ibu
Tetesan air mata kini telah berlinang dihati seorang IBU.
Air mata kesedihan yang sering aku lihat membuatku ingin
mengusapnya dengan tanganku sendiri.
Kasih sayang yang mereka berikan kini sudah tidak mempunyai
arti lagi.
Sadarkah kalian bahwa kalian telah mencampakkan hal itu
secara tidak sengaja?
Kepedulian seorang IBU saat ini hanya dianggap seperti
anjing mengonggong saja.
Pedih, sakit, kecewa. Mungkin itu yang mereka rasakan saat
ini.
Namun kata PENYESALAN tak pernah tersirat dihati mereka.
Mereka tetap dengan ikhlas memberikan seluruh jiwa raganya
demi seorang anak yang ia keluarkan melalui perjuangan yang sangat luar biasa.
Masih bisakah kalian merasakan kasih sayang yang IBU berikan
kepada kita sewaktu kita kecil?
Beliau dengan sabar menenangkan amarah kita melalui tangisan
yang tiada hentinya.
Mengasihi kita dengan segala ketulusan hatinya.
Bisakah kalian menghargai itu semua?
Aku yakin, hati seorang IBU akan terus menangis apabila
melihat tingkah laku seorang anak yang ada di zaman sekarang ini.
Kalian dengan mudahnya mengatakan “I LOVE YOU” didepan
pasangan kalian, namun apakah pernah kalian berkata sperti itu didepan IBU yang
telah melahirkanmu dan berkata “MAAF” kepadanya?
Gengsi mungkin adalah alasan yang tepat.
Mengapa kita tak pernah berani mengatakan kalimat itu kepada
orang yang jelas-jelas adalah orang yang paling dekat dengan kita?
Tegakah kalian melihat hati seorang IBU yang telah berusaha
untuk menghadirkanmu didunia ini menangis?
Hanya satu kalimat yang ingin aku ucapkan kepada kalian “Hargailah
segala pendapat atau larangan seorang IBU selagi ia masih bisa memberikan pendapat dan melarangmu saat ini”
Jangan biarkan tetesan air mata itu jatuh lebih banyak lagi
dibumi ini, karena aku tau bahwa tak akan ada kita didunia ini tanpa SEORANG IBU.
*Love You Mom. You’re the best mother for me, forever!!
Thanks for your time. Don’t stop to see across me, because i know it’s can make
me better especially for my life in the next time. ^.^
Jumat, 27 Juli 2012
Hiburan Bukan Pemainan
Walau hidup adalah hiburan, tapi aku tak mau hanya dibuat
permainan.
Setangkai bunga yang indah terselip dirambut seseorang,namun
ternyata dari setangkai bunga itu banyak terdapat duri yang sangat tajam hingga
melukai kulit kepalanya.
Dari situlah berjalan kisah hidup seorang remaja yang memang
tak memiliki apa-apa namun mempunyai keikhalasan untuk menjalani hidup ini.
Ia mencoba mencari arti sebenarnya dari kehidupan ini.
Banyak peristiwa-peristiwa yang ia alami yang ia anggap
sebagai hiburan.
Namun ia tidak hanya menjalani peristiwa itu, sekalipun itu
peristiwa yang membuatnya jatuh dari kehidupan ini, ia tetap menjalaninya
dengan ikhlas dan mengambil mutiara kehidupan dari peristiwa itu.
Remaja yang tak mempunyai modal apapun itu kini terus
berjalan menyusuri liku-liku pentas sandiwara ini.
Kapanpun ia menemukan bayangan hitam, ia mencoba
menghapusnya dengan prinsip yang telah ia buat selama mencari arti kehidupan.
Godaan memang tak akan pernah lenyap dari kehidupannya
kecuali dirinya sendiri yang mampu mengontrol itu semua.
Layaknya diri kita yang berada di tempat yang terang.
Sepeti itulah cobaan yang selalu setia bersama jiwanya.
Memang semuanya akan kembali kepada-Nya.
Namun disini kita masih mempunyai tugas agar bisa berada
tepat disisi-Nya.
Peristiwa memang dapat menjadi sebuah hiburan.
Namun hiburan tidak selamanya dapat kita mainkan.
*there’s nothing can make our life better except ourself.
Langganan:
Postingan (Atom)










